17 ramadhan menjadi saksi kebesaran Allah dan saksi bahwa nabi muhamamd itu benar-benar utusan Allah.

Kata pakar sejarah, “kita membaca sejarah itu sesuai dengan apa yang terjadi, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan terjadi, kalau bagus jadikan contoh, kalau tidak bagus jangan diulangi”.

Setelah 13 tahun Rasulullah berjuang dan berdakwah di Mekkah, akhirnya beliau mendapatkan izin berhijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini adalah salah satu fase sejarah terbesar umat manusia, dari hijrah ini lahirlah agama baru yang membawa perubahan besar kelak di seluruh dunia. Allah mengutus nabi-Nya di tanah arab, dan menyiapkan orang-orang arab untuk menjadi corong dan menara kemanusiaan, kemajuan, kedamaian dan ilmu pengetahuan esok hari.

Selama 13 tahun Rasulullah dan para sahabat bersabar dengan segala siksaan dari kaum Quraiys. Mulai dari siksaan jasmani sampai embargo ekonomi. Bahkan boikot yang dilakukan kaum qurays terhadap bani hasyim, mulai dari tidak boleh ada yang memasok pangan sampai larangan menikahi bani hasyim. Siksaan dan ujian itu berakhir dengan hijrahnya rasul ke kota Madinah. Mereka hijrah hanya membawa pakaian yang dipakai saja, kaum Qurays menyita semua harta benda mereka.

Saat itu, kaum Qurays sudah merasa bahwa islam akan menjadi sebuah kekuatan politik baru dengan bantuan suku Aus dan Khazraj di Madinah, dua suku yang terkenal dengan loyalitas dan kebersamaan yang tinggi dan sangat disegani di jazirah arab. Mereka tidka berani melakukan ekspansi ke Madinah, karena resiko yang akan diterima Mekkah sangat berat, antara lain ditutupnya jalur perdagangan mekah-syam. Penduduk Mekkah hidup dari perdagangan musim panas ke syam, dan musim dingin ke yaman, kalau tidak ada perdagangan ini, perekonomian mereka akan kacau, karena inilah salah satu devisa terbesar penduduk Mekkah.

Suatu hari, kafilah perdagangan Qurays melewati jalur Mekkah-syam, otomatis mereka melewati Madinah. Kaum muslimin muhajirin sepakat untuk “merampok” kafilah itu, mengambil harta mereka yang disita kaum qurays di Mekkah dulu. Rencana itu berhasil dan sukses. Kejadian ini membuat pembesar qurays kebakaran jenggot, khususnya abu lahab, abu jahal dan abu sofyan. Ini penghinaan dan kesewenang-wenangan orang islam Madinah. Mereka sepakat untuk membalas ini dengan perang besar-besaran.

Mendengar kaum qurays akan memerangi kaum muslimin, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat, semua sepakat akan terus maju melawan kafir qurays, bahkan orang Madinah yang disebut anshar pun semangat membela kaum muhajirin. Persaudaraan yang diikat oleh aqidah membuat mereka lupa kepada persaudaraan darah, kaum muhajirin akan berperang melawan saudara sedarahnya dari Mekkah, yang beraqidah berbeda. Sifat ini yang jarang disadari umat islam hari ini, mereka rela hidup terpecah-pecah, karena hal sepele, seharusnya aqidah menjadi pengikat erat, bukan pemecah.

Pihak yang mengaku dirinya salafi mengklaim dirinya paling benar dan menyerang syiah, syiah dengan berbagai konspirasi menyerang sunni yang notabenenya perebut kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib, pihak lain yang mengaku sunni mengklaim pihak lain sesat dan anteknya yahudi. Anehnya, waktu “anjing” amerika datang, malah disalami tangannya sambil menunduk, dibanggakan, dihormati! Apaan mental begini!!

Akhirnya kaum qurays keluar ke medan perang dengan 950 tentara, terdiri dari 100 tentara berkuda dan senjata lengkap, dan mereka juga membawa puluhan cheer leader yang menyemangati mereka selama perjalanan dan di hari perang nanti. Sedangkan Rasulullah keluar bersama 313 mujahidin, terdiri dari 77 muhajirin dan 236 anshar, 70 unta dan senjata seadanya dan 2 kuda, yaitu zubair bin awwam dan miqdad bin aswad.

Pada tanggal 17 ramadhan tahun ke-2 hijrah, bertepatan dengan 13 maret 624 M, bertemulah dua pasukan itu. Dua pasukan yang jelas-jelas tidak berimbang, siapapun yang melihat pasti akan memprediksikan kemenangan di tangan kaum qurays, melihat jumlah mereka yang lebih besar dan kelengkapan senjata yang mereka miliki. Tapi, apa yang membuat mereka “nekad” untuk maju menantang kaum qurasy yang terkenal jagoan perang dengan “jam terbang” yang lebih banyak dibanding kaum anshar.

Rasulullah saat itu berdoa, “ya Allah inilah tentara-Mu, inilah manusia-manusia yang beriman kepada-Mu di muka bumi, bantulah mereka, kalau Engkau tidak membantu mereka, maka tidak aka nada lagi manusia yang menyembahmu di muka bumi!”.
Umat islam maju ke medan perang dengan optimisme dan tawakkal kapada Allah yang luar biasa, mereka yakin bahwa mereka akan menang, karena mereka mematuhi semua titah perintah Rasulullah, dan beliau sendiri juga menjanjikan kemenangan. Pada saat perang berkecamuk, Rasulullah di control-room bermunajat, “ya Allah, realisasikanlah kemenangan yang Engkau janjikan padaku..” sampai-sampai beliau berdoa meminta kepada Allah agar dipersembahkan kepadanya beberapa kepala pembesar kafir qurays, “ya Allah…jangan kau lepaskan abu jahal firaun umat ini, dan zumah bin aswad…..”. disini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan, kalau Muhammad itu bukan benar-benar rasul utusan Allah, tidak mungkin dia berani menjanjikan kemenangan dan lebih tidak mungkin berani maju melawan pasukan yang tidak sebanding dengan kekuatan pasukannya. Kalau seandainya Muhammad tidak memiliki hubungan khusus dengan Allah, dan keyakinan pada Allah, tidak mungkin dia berani menjanjikan macam-macam, karena apabila kalah, maka itu akan menjadi boomerang bagi dia sendiri, bukti bahwa dia memang pambohong, bukan utusan Tuhan, dan otomatis kaum muslimin juga akan murtad dan meninggalkannya semua.
Kaum qurays maju ke medang perang dengan penuh peremehan dan sedikit psimis. Mereka meremehkan kaum muslimin dengan jumlah sedikit dan senjata seadanya. Mereka psimis dengan hilangnya tiga jagoan mereka pada duel maut sebelum perang, semuanya dibunuh oleh abu ubaidah, ali bin abi thalib dan hamzah asadullah.
Meskipun jumlah muslim sedikit, namun pemimpin mereka benar-benar telah memikirkan segala sesuatu dengan matang, pemimpin yang cerdas dan penuh kasih sayang. Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi telah memusyawarahkan semua, termasuk posisi dan tempat mereka di medan perang, pokoknya persiapan sangat matang. Meskipun keyakinan akan kemenangan yang pasti, tapi mereka tetap berpegang pada sebab akibat. Kalau kasih sayang bisa kita lihat jelas ketika Rasulullah berjalan kaki sebentar dan naik unta sebentar bergantian, seperti tentara yang lain, karena satu unta untuk 3 orang. Ketika dua orang itu menyuruh Rasulullah naik, biar mereka yang berjalan, beliau menjawab, “kalian tidak lebih kuat dari aku, dan kalian juga tidak lebih butuh kepada pahala dari pada aku”.
Kaum qurays maju ke medan perang dengan peremehan dan kesombongan, sampai mereka mengatakan, “demi Allah kita tidak akan pulang dari badar kecuali setelah pesta 3 hari 3 malam, kita sembelih unta, kita makan rame-rame, kita mabuk-mabukan sepuasnya, kita pesta dengan wanita-wanita cantik, malam itu akan menjadi saksi kepada seluruh penduduk hijaz, biar mereka tidak sekali-kali berani menantang kaum qurays…”

Akhirnya janji Allah menjadi nyata, kemenangan di tangan umat islam, 17 ramadhan menjadi saksi kebesaran Allah dan saksi bahwa nabi muhamamd itu benar-benar utusan Allah. Kita mengingat perang ini bukan mau ngajak orang lain perang, tapi dengan parang badar ini kita bisa mengambil banyak pelajaran, yang mungkin kita lupa. Keadaan kita tidak jauh berbeda dengan keadaan kaum muslimin yang saat itu tertindas, mereka tertindas kerena mereka sedikit, tapi karena iman dan ketaatan mereka pada Allah dan rasulnya, makanya mereka menang. Kita hari ini, tertindas padahal jumlah kita mayoritas, kita bagai buih diterjang ombak, dipukul ke kiri ke kanan, kita terbawa arus dan tidak tau kemana itu berakhir.

17 ramadhan, ingatlah semangat kaum muhajirin dan anshar dalam memerangi kakufuran dan nafsu. 17 ramadhan, ingatlah kepasrahan dan perjuangan Rasulullah mempertahankan umat terakhir yang menyembah Allah di muka bumi. 17 ramadhan, ingatlah Allah menunjukkan kekuasaanya kapada kaum kafir karena kesombongan mereka. 17 ramadhan, ingatlah kekuaasaan Allah memberikan kemenangan kepada kaum minoritas yang beriman, berbuat, berusaha, bertawakkal, dan menang.Wallahu a’lam.

Kata dia, “17 Ramadhan – 17 Agustus, mengingatkan 17 Raka’at setiap hari…, merdeka yang sesungguhnya adalah kemerdekaan diri dari hawa nafsu dan Syetan…”

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Ahlan wa sahlan wa marhaban…..

Selamat bergabung, semoga kita mendapat manfaat dari aktivitas di blog ini.

Surat Thahaa 124-127

barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan menderita hidup sempit, kemudian Kami bangkitkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta.
Nanti tentu dia akan berkata: “Ya Tuhanku! Mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku melihat?”.
Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya. Begitu pula di hari ini, engkaupun dilupakan pula.
Demikianlah balasan Kami terhadap orang-orang yang melampaui batas dan tidak mempercayai keterangan-keterangan Tuhannya. Sesungguhnya siksaan hari akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.(QS. Thahaa 124-127)

Kisah Durhaka Kepada Orang Tua

Kisah Durhaka kepada Orang Tua
Dikisahkan, pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang pemuda bernama ‘Alqamah. Ia seorang yang menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, mengerjakan sholat, shiam, dan bersedekah. Suatu hari ia sakit dan semakin hari semakin parah. Istrinya pun menyuruh seseorang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan, “Suamiku, Alqamah sedang sekarat. Dengan ini aku bermaksud mengabarkan keadaannya kepadamu, wahai Rasulallah.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus ‘Ammar, Shuhaib dan Bilal. Beliau bersabda, “Berangkatlah kalian, dan talqinkanlah ia dengan kalimat syahadat.” Mereka bertiga berangkat dan memasuki rumahnya. Mereka mendapati ‘Alqamah sedang sekarat sehingga dengan segera mereka mentalqinnya dengan ucapan ‘Laa ilaaha illalLah’. Namun lidah ‘Alqamah kelu, tak mampu mengucapkan kalimat syahadat. Sahabat bertiga menyuruh seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa ‘Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat.
Nabi bertanya, “Adakah salah seorang ibu-bapaknya yang masih hidup?” seseorang menjawab, “Wahai Rasulullah seseorang ibu yang sudah sangat renta.” Maka beliaupun mengutus seseorang dan berpesan, “Katakan kepadanya jika ia kuat berjalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggilnya. Namun jika tidak hendaknya ia tetap tinggal dirumah, Rasulullah akan menemuinya.” Utusan itu sampai kepadanya dan menyampaikan pesan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Wanita itu berucap, “Jiwaku siap menjadi tebusan jiwanya. Aku lebih pantas mendatangi beliau.” Maka wanita itupun berdiri dengan bertelekan tongkat dan berjalan menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berucap salam dan beliaupun menjawabnya. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Wahai Ummu ‘Alqamah, jujurlah kepadaku. Kalaupun kamu berdusta akan turun wahyu dari Allah Ta’ala. Bagaimana keadaan anakmu ‘Alqamah?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, ia rajin menunaikan shalat, shiyam dan banyak bersedekah.” Rasulullah bertanya lagi. “Lalu bagaimana dengan dirimu?”. Wanita itu menjawab,”Wahai Rasulullah aku murka dengannya.”. “Mengapa?” tanya beliau. “Karena ia lebih mengutamakan istrinya dari pada diriku dan ia tidak mau taat kepadaku.”, jawab Ummu ‘Alqamah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya murka Ummu ‘Alqamah menghalangi lisannya untuk mengucapkan syahadat.” Beliau melanjutkan, “Bilal, pergi dan bawakan untukku kayu bakar yang banyak.”. Wanita itu bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan, Wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab “Aku hendak membakarnya dihadapanmu” Wanita itu menimpali, “Wahai Rasulullah, ia adalah anaku. Hatiku tidak akan kuat menyaksikannya dibakar dihadapanku.” .”Wahai Ummu ‘Alqamah, adzab Allah lebih dahsyat lagi kekal. Jika kamu senang terhadap ampunan Allah baginya, ridhailah dia. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, shalat, shiyam, dan sedekahnya tidak mendatangkan manfaat baginya selama kamu murka.”, sabda nabi. Mendengarnya wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku bersaksi di hadapan Allah, para malaikat, dan siapa saja yang hadir disini dari kaum muslimin bahwa aku telah ridha kepada anakku,’Alqamah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bilal, berangkat dan lihatlah apakah ‘Alqamah sudah dapat mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ atau belum. Bisa saja Ummu ‘Alqamah tadi mengatakan yang bukan dari lubuk hatinya karena malu kepadaku” Bilal beramgkat dan melihat kondisi ‘Alqamah. Ia berkata,”Wahai sekalian orang, murka Ummu ‘Alqamah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan ridhanya telah melepaskan kekeluan lidahnya.”

Pada hari itu juga ‘Alqamah meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hadir, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. Lalu beliau menshalatkan dan menghadiri prosesi penguburannya. Beliau berdiri di ujung kuburnya bersabda, “Wahai sekalian Muhajirin dan Anshar, barangsiapa mengedepankan istrinya dari pada ibunya niscaya akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia semuanya. Allah tidak akan menerima infaqnya juga sikap adilnya sehingga ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat baik kepada-Nya serta memohonkan keridoan-Nya. Keridloan Allah terletak pada keridloannya, kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya.”

Kita memohon kepada Allah semoga membimbing kita untuk menggapai keridlaan-Nya dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pengasih.

Hikmah Berpuasa di bulan Romadhan

Hikmah Puasa Ramadhan
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara
kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit
atau dalam perjalanan, maka hendaknya mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-
hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu membesarkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”
(QS. Al-Baqoroh: 185) 1) 2)
Kemuliaan Ramadhan
Dinamakan Ramadhan sebab pada bulan ini dosa-dosa dan kesalahan dibakar (Romadh), keinginan
hawa nafsu dikekang, melaksanakan ketaatan dan mengharap pahala dari Allah dengan menahan
diri (shiyam) dari apa –apa yang membatalkan sejak fajar hingga terbenamnya matahari.
Bulan Ramadhan merupakan karunia besar bagi hamba-hamba Allah, sebab di dalamnya terdapat
manfaat yang sangat banyak. Diantara manfaatnya adalah dihapuskannya dosa-dosa antara
Ramadhan dengan Ramadhan yang lain. Dan ibadah puasa itu telah disyari’atkan kepada manusia
sejak zaman purba hingga sekarang.
Ramadhan merupakan bulan yang paling mulia dalam perjalanan bulan-bulan dalam setahun.
Karena nilai pahala ibadah pada bulan ini dilipat gandakan oleh Allah daripada bulan yang lain.
Maka hendaknya setiap muslim menyegerakan amal dalam bulan ini, menyempurnakan ibadah-
ibadah, memperbaiki kekurangan-kekurangan. Misalnya dengan bersedekah, tadarus Al-Qur’an,
berdzikir, qiyamul-lail, berakhlaq baik dan sebagainya.
Di antara kemulian bulan ini juga adalah adanya malam Lailatul-qodar, yang 1 malam nilainya
lebih baik dari 1000 bulan atau lebih dari 83 tahun.
Puasa Ramadhan dengan segala amal ibadahnya berupa tarawih, dzikir, infaq, I’tikaf,
membaca al- Qur’an dan lainnya tentu akan mampu menghantarkan manusia menjadi taqwa.
Sebab Ramadhan merupakan bulan tarbiyah, mendidik hawa nafsu, menempa keinginan, kepentingan,
prinsip hidup, sudut pandang, agar tunduk semata-mata kepada Allah swt.
Hikmah disyari’atkannya puasa adalah agar manusia menjadi bertaqwa. Sebab puasa adalah
merupakan penyebab utama agar mencapai ketaqwaan. Yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah
dan menjauhi larangan-Nya.
Syari’at puasa menjadi penyebab utama meraih taqwa karena orang yang berpuasa mampu mentaati
Allah walaupun dalam masalah yang sebenarnya dihalalkan sebelumnya, seperti makan, minum,
berhubungan badan suami-istri dan sebagainya. Dan inilah taqwa. Orang yang membiasakan
mendidik nafsunya untuk mengikuti perintah Allah, yang sebelumnya suka diumbar.
Dari sisi medis, puasa menjadikan sempitnya pembuluh darah, sehingga godaan syetan yang
berjalan melalui alirannya menjadi buntu. Maka dengan puasa tersebut ambisi berbuat maksiyat
melemah.
Dengan puasa pula keinginan untuk memperbanyak ketaatan semakin kuat. Misalnya orang kaya
dapat merasakan langsung bagaimana pedihnya rasa lapar sebagaimana mendera kaum fakir-
miskin. Sehingga timbullah tanggung jawab sosialnya. Dan inilah buah taqwa.
Ramadhan juga bulan jihad, dimana puasa mengajarkan jihad melawan rayuan syetan kepada
kejahatan, ajakan hawa nafsu, menanjurkan supaya sabar, dermawan, produktif, tidak pemarah,
disiplin waktu. Puasa membentuk manusia jujur kepada diri sendiri, mampu menahan diri dari yang
dilarang Allah. Memiliki tanggung jawab, adil, memiliki kepedulian social dan sebagainya.
Kemuliaan Al-Qur’an
Tidak kalah pentingnya, Allah memuliakan bulan ini dari seluruh bulan yang ada karena bulan ini
Allah turunkan Al-Qur’an (Syahrul-Qur’an). Allah turunkan kitab-kitab untuk para nabi-Nya,
Taurat, Injil, Zabur dan suhuf para nabi dan rosul juga pada bulan ini..
Agungnya Ramadhan juga karena identik dengan sifat al-Qur’an yang mulia.
Yang mengandung petunjuk (hudan), menunjukkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia agar diikuti
, menunjukkan mana yang bahaya (mudhorrot) bagi mereka agar dijauhi. Menunjukkan jalan-jalan kebaikan,
dan menunjukkan pula jalan-jalan kebinasaan.
SIfat Al-Qur’an juga menjadi pemberi penjelasan (Bayan) yang gamblang, menjelaskan jalan-jalan
keselamatan dan kebahagiaan, menjelaskan jalan-jalan kesesatan. Al-Qur’an menjadi pembeda (Al-
Furqon) atas cakupan kebaikan dan keburukan. Membedakan mana yang haq, mana yang bathil.
Mana yang halal, mana yang haram. Mana tauhid, mana yang syirik. Mana yang sunnah, mana yang
bid’ah. Mana yang menyebabkan kebahagian dan mana yang membinasakan. Agar manusia
berfikir.
Indahnya Rukhsoh
Allah yang maha rohman dan rohim memberikan kemudahan atau keringanan (rukhsoh), yaitu
bolehnya meng-qodho’ puasa dan diganti pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan karena
sebab-sebab tertentu seperti sakit keras, perjalanan jauh, hamil dan sebagainya.
Allah tidak membebani hamba-Nya diluar kemampuannya. Seperti adanya rukhsoh menjama’ dan
meng-qoshor sholat bagi musafir, sholat dengan berbaring bagi yang tidak kuat berdiri, bolehnya
Kajian Islam dan Taushiah.doc
bertayammum bagi orang sakit atau kesulitan mendapati air, bolehnya memakan makanan haram
dalam keadaan dhorurot yakni nyawanya terancam jika tidak memakannya. Dan sebagainya.
Bagi orang yang tidak mampu berpuasa dan tidak memungkinkan pula menggantinya maka boleh
menggantinya dengan fidyah. Yaitu memberi makan fakir miskin sebanyak puasa yang
ditinggalkan. Seperti kakek-nenek yang sudah tua, orang sakit yang kemungkinan tidak diharapkan
kesembuhannya, wanita hamil yang sangat dikhawatirkan kesehatan bayinya. Dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim, bahwa pada zaman rosulullah saat beliau
mengadakan perjalanan bersama para sahabatnya, sebagian mereka ada yang tetap berpuasa, dan
sebagian yang lain tidak. Namun diantara mereka tidak ada yang saling mencela.

Hal ini menunjukkan bahwa syari’at Allah mengandung manfaat yang sangat banyak. Sebaliknya
apa yang dilarang Allah hakikatnya mengandung kerusakan yang luar biasa bagi jiwa dan badan.
Salah satu sifat mustahil bagi Allah adalah berbuat dan berkata sia-sia. Maka apa saja yang difirman
Allah adalah bermanfaat.

Dalam hal ini rosulullah bersabda; “Maka sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah (Al-
Qur’an), dan sebagus-bagus petunjuk adalah petunjuk Muhammad….” (HR. Bukhory). Namun
banyak manusia yang tidak mengerti hikmah ini.

Sesungguhnya ajaran Islam itu adalah kemudahan. Dan barangsiapa yang menentang ajaran Islam
sesungguhnya justru mempersempit hidup. Akan tetapi kebanyakan manusia mencari rekayasa
pemuasan diri dengan hawa nafsu. Padahal hal ini sejatinya adalah kehancuran yang nyata. Yang
lebih aneh lagi, mereka menyangka ajaran Islam sebagai beban, menjadi penghalang kemajuan dan
prasangka-prasangka keji lainnya.

Hendaknya bersyukur
Maka barangsiapa yang menyaksikan bulan Ramadhan hendaknya berpuasa, yakni bagi setiap
muslim yang baligh, sehat serta mampu.

Alangkah indahnya jika nilai-nlai ini mampu terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari
setelah Ramadhan. Apabila telah kita laksanakan perintah-perintah Allah dengan taat kepada-Nya,
menunaikan kewajiban-kewajiban, meninggalkan apa yang dilarang, menjaga batasan-batasan-Nya,
maka mudah-mudahan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Sebagian ulama ada yang mengambil istimbat disyari’atkannya takbiran pada saat menjelang hari
raya dengan ayat ini. Sudah sepantasnya kita wajib bersyukur dengan adanya rangkaian syari’at
ibadah di bulan puasa ini. Yakni dengan membesarkan Allah dengan banyak-banyak mengucapkan
takbir, tahmid, tasbih menjelang hari kemenangan, idul Fitri. Merayakan hari kemenangan dengan
banyak bersilaturahim bersama keluarga, sahabat, tetanga dan kaum muslimin di seluruh dunia.
Taqobbalallohu minna waminkum.

Terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan

Berikut ini beberapa terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan:

1. Anggaplah besar dosamu

 

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata,”Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”

 

2. Janganlah meremehkan dosa

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.” (Ahmad dengan sanad yang shahih)

 

3. Janganlah mujaharah (menceritakan dosa)

 

Rasulullah bersabda,”Semua umatku dimaafkan kecuali mujahirun (orang yang berterus terang). Termasuk Mujaharah ialah seseorang yang melakukan suatu amal (keburukan) pada malam hari kemuadian pada pagi harinya ia membeberkannya, padahal Allah telah menutupinya, ia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku telah melakukan demikian’. Pada malam hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya tetapi pada pagi harinya ia membuka tabir Allah yang menutupinya.” (Bukhari dan Muslim)

 

4. Taubat Nasuha yang tulus

 

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya tatkala bertaubat daripada seorang di antara kamu yang berada di atas kendaraannya di padng pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur dibawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul didekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira,”Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu”. Ia salah ucap karena sangat bergembira.” (Bukhari-Muslim)

 

5. Jika dosa berulang, maka Ulangilah bertaubat

 

Ali bin Abi thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,”Sebaik-baik kalian adalah setiap orang yang diuji (dengan dosa) lagi bertaubat.” Ditanyakan,”Jika ia mengulangi lagi?” Ia menjawab.”Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat.” Ditanyakan,”Jika ia kembali berbuat dosa?” Ia menjawab,”Ia beristighfar kepada Allah dan bertaubat,” Ditanyakan ,”Sampai kapan?” Dia menjawab,”Sampai setan berputus asa.”

 

6. Jauhi faktor-faktor penyebab kemaksiatan

 

Orang yang bertaubat harus menjauhi situasi dan kondisi yang biasa ia temui pada saat melakukan kemaksiatan serta menjauhi darinya secara keseluruhan dan sibuk dengan selainnya.

 

7. Senantiasa beristighfar

 

Saat-saat beristighfar:

a. Ketika melakukan dosa

b. Setelah melakukan ketaatan

c. Dalam dzikir-dzikir rutin harian

d. Senantiasa beristighfar setiap saat

Rasulullah beristighfar kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali (dalam riwayat lain 100 kali)

 

8. Apakah anda berjanji kepada Allah untuk meninggalkan kemaksiatan?

 

Tidak ada bedanya antara orang yang berjanji kepada Allah (berupa nadzar atas tebusan dosa yang dilakukannya) dengan orang yang tidak melakukannya. Karena yang menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam kemaksiatan tidak lain hanyalah karena panggilan syahwat (hawa nafsu) lebih mendominasi daripada panggilan iman. Janji tersebut tidak dapat melakukan apa-apa dan tidak berguna.

 

9. Melakukan kebajikan setelah keburukan

 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaijkan maka kebajikan itu akan menghapus keburukan tersebut, serta perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik.” (Ahmad dan Tirmidzi)

 

10. Merealisasikan Tauhid

 

Rasulullah besabda,”Allah ‘Azza wa jalla berfirman.”Barangsiapa yang melakukan kebajikan maka ia mendapatkan pahala sepuluh kebajikan dan Aku tambah dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka balasannya satu keburukan yang sama, atau diampuni dosanya. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari. Barangsiapa yang menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku menemuinya dengan maghfirah (ampunan) yang sama.” (Muslim-Ahmad)

 

11. Jangan berpisah dengan orang-orang yang baik

 

a. Persahabatan dengan orang-orang baik adalah amal shalih.

b. Mencintai orang-orang shalih menyebabkan seseorang bersama mereka, walaupun ia tidak mencapai kedudukan mereka dalam amal.

 

c. Manusia itu ada 3 golongan:

1. Golongan yang membawa dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan. Inilah golongan terbaik.

2. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal. Ia merasa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharap suatu hai dapat berpisah dari kemaksiatan tersebut.

3. Golongan yang mencari kemaksiatan, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan hal itu.

 

d. Penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat dipetik dari persahabatan yang baik.

e. Tidak ada alas an untuk berpisah dengan orang-orang yang baik.

 

12. Jangan tinggalkan Da’wah

 

Said bin Jubair berkata,”Sekiranya seseorang tidak boleh menyuruh kebajikan dan mencegah kemungkaran sehingga tidak ada dalam dirinya sesuatu (kesalahan) pun, maka tidak ada seorang pun yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.” Imam Malik berkomentar, ” Ia benar. Siapakah yang pada dirinya tidak ada sesuatupun (kesalahan).”

 

13. Jangan cela orang lain karena perbuatan dosanya

 

Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwasanya seseorang berkata,”Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah berfirman,”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapus amalmu.” (Muslim)

Diringkas dari kitab Sabiilun Najah min Syu’mil Ma’shiyyah (13 Penawar Racun Kemaksiatan) karya Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy

 

 

 

 

 

 

 

islam datang asing dan akan kembali asing

# Islam, datang dengan Asing dan akan Kembali Asing #
Written By ‘ H. Dadang jum’at Tanggal 12 Agustus 2011 | 15:07

Pernahkah anda melihat seorang remaja megenakan baju muslim yang rapi dan senantiasa menunaikan sholat di masjid? Kebanyakan orang pasti akan menganggapnya aneh, bahkan mungkin ada yang mencibirnya. Coba bandingkan dengan seorang remaja yang mengenakan pakaian tak rapi, tidak menutup aurat, dan bergandengan tangan dengan lawan jenisnya. Orang-orang mungkin akan menganggap hal ini biasa saja dan mungkin menganggapnya wajar.
Rasulullah sebenarnya sudah memperkirakan hal ini dan bersabda: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang Asing”
Apa arti Asing?
Kata Asing berarti tampil berbeda dari kebanyakan orang. Dari Hadis diatas, kata asing berarti Seseorang yang menjalankan syariat Allah ditengah-tengah masayarakat yang mulai melupakannya. Atau, seseorang yang mentaati Allah dimana orang-orang lebih banyak mengingkarinya daripada mentaatinya.
Apa arti kata “beruntung”?
Dalam hadis diatas, kata beruntung berarti terbebas dari siksa Allah. Atau bisa diartikan seseorang yang mendapatkan Karunia/Rahmat dari Allah dikarenakan ketaatannya pada Allah.
Siapakah orang yang asing tersebut?
Orang-orang yang terasing tersebut bisa digolongkan sebagai Ahli Sunnah, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menghidupkan/menjalankan sunnah Rasulullah di kehidupannya. Mereka tidak memisahkan agama dari kehidupan. Mereka memandang Islam sebagai solusi untuk memecahkan berbagai masalah. Tak terkecuali soal Hukum, Politik ataupun untuk masalah-masalh lainnya. Karena itulah, banyak masyarakat memandang mereka sebagai orang yang asing.
Kata “Sunnah” bukan berarti suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan tidak dikerjakan mendapat dosa”. Ahli Sunnah berarti seseorang yang berusaha untuk mengikuti jalan hidup Rasulullah SAW. Yang senantiasa menjauhkan diri dari nafsu yang menjerumuskannya ke dalam dosa dan senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Keterasingan Islam di Masa SekarangPada pembukaan tadi, saya sudah memberikan contoh keterasingan orang-orangyangberusahamenghidupkan sunnah Rasul di masa sekarang. Malahan ada seseorang yang berusaha untuk menjalankan sunnah-sunnah Rasul, namun mereka merasa ragu untuk melanjutkannya setelah mendengar hasutan-hasutan dari orang lain.
Ya Allah, jadikanlah hati kami selalu bertaut kepada-Mu! Jadikanlah kami orang yang selalu bertasbih memuja-Mu! Dan Janganlah Engkau Menjauh dari Kami. Sesungguhnya Engkaulah Penolong hamba-Mu dalam kesesatan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.